Just another WordPress.com site

PALU, HARIAN MERCUSUAR – Hanya dalam jangka waktu lima tahun mendatang, wilayah Teluk Palu diprediksi akan mengalami pendangkalan jika pemerintah daerah tidak mengontrol laju reklamasi atau penimbunan pantai di Teluk Palu.

Ahli geofisika laut Universitas Tadulako (Untad) Yutdam Muin SSi MT mengatakan,
pola arus dan gelombang laut akan ikut berubah seiring pembangunan tersebut. Selain pendangkalan di Teluk Palu, reklamasi juga bakal menyebabkan terjadinya abrasi di sekitar daerah timbunan.
Pendapat Yutdam ini terkait reklamasi pantai di Kelurahan Silae, Kecamatan Palu Barat yang saat ini mulai dikerjakan.
Dijelaskannya, UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang pada prinsipnya menolak adanya reklamasi pantai. “Jarak 100 meter dari bibir pantai ke darat, yang biasa disebut sempadan pantai, tidak membenarkan untuk dilakukan pembangunan. Masalahnya, justeru saat ini dilakukan penimbunan pantai di sekitar Hotel Swissbelhotel,” ujarnya.
Padahal, menurut dia, mengacu pada Perda No.2/2006 tentang Pengolaan Pesisir dan Teluk Palu, wilayah sepanjang Pantai Talise ditetapkan sebagai ruang publik. “Ini sangat kontras,” sesalnya.
Selain faktor reklamasi, pada saat yang sama, endapan material hulu Sungai Palu, sampah dan kotoran lainnya juga menyatu di bibir pantai. Reklamasi dan endapan bisa mendorong terjadinya pendangkalan yang sangat cepat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, Hasanuddin Atjo, kepada wartawan bahkan memerkirakan Teluk Palu menghasilkan empat juta meter kubik endapan setiap tahunnya.
Mantan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sulteng, Said Awad, dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan, saat ini warna air laut di Teluk Palu mulai tampak kekuning-kuningan. Ini bisa dilihat, khususnya pada siang hari, mulai dari pinggir pantai sampai dengan radius lima kilometer.
Warna keruh itu diakibatkan oleh pembuangan limbah domestik dan industri, pembukaan tambang-tambang galian C, penataan kawasan industri pariwisata serta reklamasi atau tata guna lahan kawasan pesisir.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulteng, Wilianita Silviana menilai, laju reklamasi juga bakal mengancam mata pencaharian para nelayan. Untuk itu, pembangunan hotel di bibir pantai perlu dipertimbangkan.
“Untuk daerah pesisir, sebaiknya pemerintah mengembangkan model pembangunan menggunakan tiang pancang atau bangunan berbentuk panggung, bukan dengan menimbun laut,” ujarnya, Jumat (1/10).
Sejumlah nelayan di Pantai Silae membenarkan dugaan Walhi.
“Memang sedikit berpengaruh dengan aktivitas kami mencari ikan. Biasanya saya dan beberapa nelayan bapukat ikan di area yang ditimbun itu. Dengan dilakukan penimbunan itu, terpaksa kami bapukat ikan di area yang tidak ditimbun,” kata Parsaya, nelayan setempat, Jum’at (1/10).
Ia berharap, nantinya ia dan warga lainnya tidak dilarang memukat ikan di area sebelah hotel. Parsaya setiap hari memukat ikan di Pantai Silae untuk menghidupi istri dan tiga anaknya.
Nelayan lainnya, Ruspin, berharap agar pihak yang menimbun pantai menyediakan pangkalan buat perahu mereka. “Jika tidak dibuatkan pangkalan perahu, pasti kami akan mempermasalahkan penimbunan itu,” ungkapnya. Ruspin mengakui sejumlah rekannya mempermasalahkan timbunan itu.

DIKLAIM LULUS AMDAL
Sekretaris Dinas Penataan Ruang dan Perumahan Kota Palu Ramli Usman mengatakan, reklamasi pantai di Kelurahan Silae, tepatnya di sebelah Hotel Swissbelhotel yang saat ini sedang dikerjakan telah mengantongi izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari Badan Lingkungan Hidup.
Ramli juga menegaskan bahwa sebelum reklamasi pantai terjadi, sudah ada kajian teknis dari Walikota Palu. Kajian teknis tersebut diantaranya dengan adanya bangunan hotel mewah di Silae akan sangat menguntungkan dari segi ekonomi dan juga pariwisata.
Selain kajian lingkungan, Dinas Perhubungan Palu juga telah memastikan jika pembangunan hotel tersebut tidak mengganggu pelayaran. Demikian halnya kajian kelestarian alam dari Dinas Perikanan dan Kelautan kota Palu. Reklamasi pantai di Silae juga telah mengantongi rekomendasi dari Pelabuhan Pantoloan.
Dari informasi dihimpun, reklamasi pantai di Kelurahan Silae diperuntukkan untuk pembangunan sebuah hotel mewah berbintang empat milik pengusaha lokal bernama Tedy, pimpinan Hotel Mery Glow.
Menurut sumber, nilai investasi pengerjaan reklamasi pantai dan pembangunan hotel tersebut mencapai miliaran rupiah.
Saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Tedy mengaku sedang berada di luar kota dan masih menolak memberi komentar. “Saya masih di Poso dan nanti Senin saja ketemu,” singkatnya.
Sebelumnya, di kawasan tersebut juga pernah dilirik manajemen Swissbel Hotel.
Publik Relation & Marketing Swissbell Hotel, Rahmat, Jumat (1/9) mengatakan, rencana untuk memperluas bangunan hotel dengan membeli lahan di dekat hotel tersebut batal karena tidak adanya kesepakatan harga dengan pihak penjual. DIN/DAR/HAI/SAF/CR7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: