Just another WordPress.com site

PALU, MERCUSUAR – Sejumlah warga asal Sulteng yang tinggal di Tarakan, Kalimantan Timur saat ini cemas dengan kondisi mereka. Mereka juga tidak bisa kembali ke Sulteng karena tidak ada kapal maupun pesawat dari Tarakan menuju Sulteng.

Sabrin, warga Kelurahan Pengawu, Kecamatan Palu Selatan, kepada Mercusuar, Rabu (29/8) mengatakan, ayah serta saudara-saudaranya yang saat ini bekerja di Tarakan dalam kondisi cemas. Mereka tidak leluasa keluar rumah karena kondisi kota mencekam. Namun, keluarganya belum memilih mengungsi. Ia mengaku sejak Senin terus mengikuti perkembangan kondisi di kota kaya minyak ini.
Sabrin hanya berharap konflik di Tarakan secepatnya selesai sehingga masyarakat merasa nyaman. Selain dari Palu, warga Sulteng yang bekerja di Tarakan saat ini menyebar dari seluruh daerah, antara lain Tolitoli, Donggala, hingga Banggai Kepulauan.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Hubkominfo) Sulteng, Bambang Sunaryo, yang dikonfirmasi mengatakan, pihak syahbandar Pelabuhan Tarakan sudah menolak kapal masuk ke pelabuhan Tarakan sejak Senin (26/9).
Saat itu, Kapal Motor (KM) Julung-julung yang berangkat dari Pelabuhan Tolitoli disuruh kembali oleh pihak syahbandar karena situasi di kota Tarakan tidak kondusif.
Namun, sebagian penumpang ngotot turun di pelabuhan itu, meskipun diturunkan di perairan Tarakan karena kapal tidak diperbolehkan merapat.
KM Julung-julung melayani rute Tolitoli-Tarakan sepekan sekali.
KM Umsini juga terpaksa membatalkan tujuannya ke Pelabuhan Tarakan, Rabu (29/9) karena alasan kondisi Kota Tarakan, Kalimantan Timur belum kondusif. KM Umsini kemudian mengalihkan tujuannya dari Pelabuhan Pantoloan ke Nunukan.
Pengalihan tujuan keberangkatan ini dikeluhkan sejumlah calon penumpang. Apalagi, Pelni hanya mengembalikan 50 persen uang tiket calon penumpang tujuan Tarakan yang menolak ke Nunukan.
Salah seorang calon penumpang yang bekerja di Tarakan, Utat, kepada Mercusuar, Rabu (29/9), mengatakan, dengan kebijakan Pelni tersebut, dia dan sejumlah calon penumpang yang akan menggunakan KM Umsini, terpaksa harus balik ke kampung.
“Hanya yang membeli tiket pada malam hari yang bisa berangkat, itupun harus turun di Nunukan, sementara yang sudah membeli tiket di pagi hari dibatalkan. Namun, yang dikeluhkan para penumpang adalah potongan harga tiket hingga 50 persen, padahal itu bukan kemauan atau sengaja kami batalkan,” keluhnya.
Menurutnya, penumpang tujuan Tarakan jika membeli tiket kelas ekonomi seharga Rp275 ribu hanya dikembalikan Rp137.500. Jika dirinya bersama anak dan istrinya membeli tiket kelas ekonomi, maka dia akan merugi sekira Rp400 ribu-an.
“Padahal kami ini berada dalam keadaan sempit, karena mau ke rumah di Tarakan tidak bisa. Terpaksa kami balik ke kampung di Kabupaten Banggai, dengan barang bawaan dan ongkos yang tidak sedikit,” ujarnya.
Dia akan menunggu suasana kondusif di Tarakan baru berencana balik kembali melalui angkutan kapal. “Mungkin sekira tanggal 10 atau 13 Oktober ada kapal. Kemungkinan nanti tanggal 13 baru kami pulang, karena dalam suasana konflik seperti ini, semua aktivitas lumpuh dan tentu kami juga belum bekerja,” tutupnya.
Manajer Pelni Cabang Palu, Suaidi, yang coba dihubungi beberapa kali via telepon HPnya sedang tidak aktif.
Terkait dengan pengembalian setengah dari harga tiket bagi calon penumpang KM Umsini yang batal berangkat ke Tarakan, Bambang Sunaryo mengaku belum menerima informasi tersebut. “Kalau pembatalan karena kemauan penumpang sendiri maka berlaku ketentuan pemotongan seperti itu. Tapi kalau pembatalan karena kapal memang tidak jadi berangkat, tentunya ketentuannya lain,” ujarnya.
Puluhan warga Tarakan asal Sulsel juga sudah mulai melakukan eksodus ke Makassar. Puluhan warga tersebut berangkat dari Balikpapan dan tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, pukul 16.55 Wita, Rabu (29/9).
Nurdin (60) tiba bersama istri, anak dan cucunya sebanyak 14 orang. Nurdin mengaku bermukim di Tarakan selama 30 tahun, sebagai petani tambak.
Untuk sampai di Balikpapan, dia harus berjibaku menempuh jalur darat. Ia menyebutkan, pada 2 Oktober mendatang, sekitar 100 orang keluarga dan kerabatnya juga akan mengikuti jejak Nurdin kembali ke kampung halaman.
“Mereka semua sudah pesan tiket pesawat untuk pulang ke Sulsel, karena kondisi di Tarakan sangat mencekam. Orang-orang sudah saling bunuh,” pungkas Nurdin.
Selain Nurdin, satu keluarga penumpang pesawat, yaitu Hania, yang tiba bersama putranya dalam kondisi tidak sehat terpaksa pulang ke Makassar karena bentrok antar warga di Tarakan mengancam keselamatan nyawanya.
Bentrokan di Tarakan melibatkan dua kelompok berbeda. Kejadian dipicu perkelahian dua kelompok pemuda dari masing-masing suku di Kampung Juata Permai, Tarakan pada Minggu (26/9), sekitar pukul 22.30 Wita. Akibat perkelahian tersebut satu orang tewas. Bentrokan Berlanjut. Sampai Rabu (29/9) sore, lima orang dari kedua kubu dinyatakan tewas. GUS/STY/DAR/DTC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: