Just another WordPress.com site

Selasa, 5 Oktober 2010 | 19:06 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Konflik antaragama dan golongan yang terjadi belakangan ini sudah disadari banyak pihak sebagai sebuah ancaman bagi pluralisme bangsa. Wacana dominan dan nondominan serta mayoritas dan minoritas pun semakin memperuncing terjadinya konflik.

Padahal, sejarah Indonesia mencatat, ada sejumlah pejuang kemerdekaan yang memiliki peran serta yang begitu besar berasal dari kalangan minoritas. Namun, karena keminoritasannya, pamor pejuang ini justru redup dalam sejarah.

Kelima tokoh tersebut yakni IJ Kasimo, seorang Katolik Jawa, ahli pertanian yang aktif di partai politik konvensional dan duduk di Volksraad; Toedoeng Soetan Goenoeng Moelia (1896-1966), seorang Protestan Batak yang aktif di partai politik konvensional dan duduk di Volksraad; GSSJ Ratu Langie, seorang Protestan Minahasa yang duduk di Volksraad; Amir Sjarifoeddin (1907-1948), pemimpin muda kharismatik dalam gerakan nasionalis tahun 1930-an, menjadi Perdana Menteri RI dua kali dalam rentang 1947-1948; dan Albertus Soegijapranata (1896-1963), pastor Serikat Jesuit dari Jawa Tengah, uskup pribumi pertama di Hindia Belanda pada 1940 yang aktif dalam aktivitas politik pada periode 1940-an.

“Mereka kini terlupakan perannya yang besar oleh bangsa ini. Padahal, mereka tokoh nasionalis penggerak bangsa yang sangat penting kontribusinya,” ujar cendekiawan muslim, Dawam Rahardjo, Selasa (5/10/2010), dalam bedah buku 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa: Nasionalisme Minoritas Kristen di Gedung Djoeang 45, Jakarta.

Ia mencontohkan, misalnya, Amir Sjarifudin yang dieksekusi mati tanpa proses peradilan karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Madiun. “Sjarifudin ini adalah satu-satunya Perdana Menteri Kristen. Ini menunjukkan ketokohan dan kapasitasnya,” ujar Dawam.

Mantan cendekiawan Muhammadiyah tersebut berujar bahwa ketokohan Amir tidak dikenal publik memang karena ia berasal dari minoritas. Namun, bukan sebab kekristenannya yang membuat jasa Amir dilupakan, melainkan lebih karena citranya yang terlibat dalam pemberontakan komunis.

“Maka dari itu, ketokohan seseorang jangan dilihat dia dari mana, agama apa, tapi lihat apa yang sudah diberikan orang-orang ini kepada bangsa Indonesia,” tandas Dawam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: