Just another WordPress.com site

Jumat, 8 Oktober 2010
Radar Sulteng

*Pengurasakan Alat Berat PT KLS
LUWUK – Sidang lanjutan kasus pembakaran dan pengrusakan dua alat berat dan kamp karyawan PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS), Rabu (6/10) berlangsung tegang. Pasalnya, terdakwa yang dihadirkan adalah Koordinator Forum Rakyat Anti Sawit (FRAS), Eva Susanti Bande.

Eva yang didampingi penasehat hukum (PH) Nasrun Hipan, SH, tampak tenang saat diajukan di hadapan majelis hakim yang dipimpin oleh Ivan Budi Hartanto, SH, didampingi anggota majelis hakim Rais Sakroni, SH, untuk mendengarkan keterangan saksi Sutrisno.

Sutrisno menjelaskan, selama proses aksi unjuk rasa yang berakhir dengan tindakan anarkis sekitar 200 orang massa, Eva Susanti Bande tidak terlibat secara langsung untuk melakukan pembakaran dan pengrusakan. Sebaliknya, Eva justru berkali-kali melakukan tindakan pencegahan terhadap massa yang telah beringas.

Demikian pula saat pertemuan pada 23 Mei 2010 malam. Terdakwa tidak hadir di tengah masyarakat. Pertemuan itu, merupakan inisiatif masyarakat yang merasa resah akibat tindakan PT KLS, yang melakukan penutupan akses jalan menuju areal perkebunan dan persawahan masyarakat desa Piondo.

Dalam pertemuan itu lanjut Sutrisno, masyarakat sepakat untuk mendatangi PT KLS untuk berdialog sekaligus meminta perusahaan membuka akses jalan masyarakat. Menjelang keberangkatan masyarakat menuju PT KLS, tiba-tiba terdakwa Eva muncul dengan memberikan arahan agar melakukan aksi secara damai dan menemui menejer.

Aksi yang berlangsung dibawa terik matahari tersebut, masyarakat yang berjumlah ratusan orang menemui menejer PT KLS. Tetapi, keinginan masyarakat tidak terpenuhi, karena orang yang diharapkan bisa menjembatangi ketegangan kedua belah pihak tidak muncul batang hidungnya.

Kemudian, massa bergerak menuju kantor PT KLS untuk meminta pertanggungjawaban pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Yang datang hanya Kepala Desa (Kades) HTI, untuk memberikan keterangan. Namun, masyarakat menolak berdialog, karena Kades tidak punya keterkaitan dengan masyarakat.

Massa yang kesal dengan sikap PT KLS yang tidak mau bertemu, massa mulai beringas dengan memperlihatkan tindakan-tindakan anarkis. Namun, sikap masyarakat itu masih bisa diatasi oleh terdakwa Eva, dengan meminta masyarakat bersikap tenang dan bijaksana sambil menunggu orang penting KLS.

Selama satu jam masyarakat diminta menunggu, tetapi tak seorang pun dari PT KLS yang datang. Menyusul kehadiran sejumlah oknum dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang diinformasikan sedang melakukan kegiatan latihan perang di kawasan hutan Tanaman Industri (HTI).

Proses negosiasi antara masyarakat dan TNI juga tidak berhasil. Tiba-tiba sebuah batu melayang ke gedung kantor PT KLS yang mengenai dinding dan jendela kantor. “Maka itulah awal dari tindakan pengrusakan dan pembakaran dua alat berat dan kamp karyawan PT KLS,” katanya.

Puas merusak kantor PT KLS, massa mulai menyebar untuk mencari fasilitas perusahaan lainnya sebagai sasaran kemarahan masyarakat. Akibatnya, dua alat berat dan kamp karyawan menjadi bulan-bulanan massa. Namun, terdakwa tidak pernah terlibat dalam tindakan tersebut.(rd)

http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Parimo-Touna-Banggai&id=66807

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: