Just another WordPress.com site

Oleh : Agus Darwis

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamatkan bahwa tujuan didirikan Negara Republik Indonesia, antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat tersebut mengandung makna bahwa Negara berkewajiban memenuhi kebutuhan setiap warga Negara melalui suatu system pemerintahan yang mendukung terciptanya penyelenggaraan pelayanan yang baik/ prima dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar hak sipil setiap warga Negara atas barang public, jasa public dan pelayanan administrative kemasyarakatan. Pasal 28 F UUD 1945 juga disebutkan bahwa setiap Orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Hak untuk memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia sebagai salah satu wujud dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokrastis.

Pelayanan publik dan keterbukaan informasi public tidak dapat dipisahkan, walaupun hal tersebut diatur dalam Undang-Undang tersendiri yaitu UU 14/ 2008 tentang keterbukaan informasi public dan UU 25/ 2009 tentang pelayanan public. Oleh karena itu, diharapkan dapat mengubah pola pikir para pejabat bahwa saat ini Republik Indonesia bukan lagi Negara Kekuasaan tetapi sudah menjadi Negara Pelayanan Publik dengan tujuan untuk memperkuat demokrasi dan hak asasi manusia, mempromosikan kemakmuran ekonomi, kohesi social, mengurangi kemiskinan, meningkatkan perlindungan lingkungan, bijak dalam pemanfaatan sumber daya alam, memperdalam kepercayaan pada pemerintahan dan administrasi public. Badan public terdiri dari lembaga  eksekutif,  yudikatif,  legislatif,  serta penyelenggara negara lainnya yang mendapatkan dana dari APBN/ APBD dan mencakup pula organisasi Non-Pemerintah serta organisasi lainnya  yang mengelola atau menggunakan dana yang sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.

Perubahan paradigma dari Negara kekuasaan menuju Negara pelayanan public masih dihadapkan pada kondisi yang belum sesuai dengan kebutuhan dan perubahan di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketidaksiapan dalam menanggapi terjadinya transformasi nilai yang berdimensi luas serta berdampak dalam berbagai masalah pembangunan yang kompleks. Sementara itu, masyarakat dihadapkan pada harapan dan tantangan global yang dipicu oleh kemajuan dibidang ilmu pengetahuan, informasi, komunikasi, transportasi dan perdagangan. Disisi lain, para penyelenggaran Negara masih terkooptasi dengan model pemerintahan orde baru yang menutup informasi buat masyarakatnya.

Pelayanan public yang tidak dibarengi dengan keterbukaan informasi public justru akan menjauhkan harapan masyarakat terhadap kualitas pelayanan itu sendiri dan justru akan dapat menimbulkan penyalahgunaan kewenangan dari pejabat Negara yang seharusnya memberikan pelayanan kepada public.  Hal ini dapat dilihat dari prilaku pejabat Negara yang melakukan tindak pidana korupsi dari tahun ketahun jumlahnya semakin meningkat dan semakin memperburuk citra pemerintah dimata masyarakat yang tergambar dari ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum.

Pada tahun 2009, PERC survei pada sektor pelayanan publik menempatkan Indonesia pada tingkat terendah di antara 12 negara Asia Pasifik. Hasil Survei Transparency International (TI) tahun 2009 Indeks Persepsi, Indonesia berada di posisi 111 dari 180 negara yang disurvei, yang berarti masih terdaftar sebagai salah satu negara paling korup di dunia. Meskipun indeks persepsi di Indonesia telah meningkat dari 2,0 pada tahun 2004 menjadi 2,8 pada 2009 tetapi masih relative rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia, apalagi Singapura. Ini juga merupakan dampak dari korupsi yang terjadi di daerah. Indeks Persepsi Masyarakat Sulawesi Tengah terhadap korupsi masih tergolong rendah karena dibawah peringkat 20 secara nasional.

Dalam catatan akhir tahun yang dipublikasikan LPS-HAM Sulteng dimedia local Sulawesi tangah  pada awal bulan Januari 2010, untuk kasus korupsi tahun 2009 yang ditangani oleh aparat hukum ada 27 (dua puluh tujuh)  dengan nilai kerugian Negara sebesar  Rp.59.484.300.000,- (lima puluh sembilan milyar empat ratus delapan puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) yang bersumber dari APBD yaitu sebesar 78%, APBN sebesar 18% dan tidak jelas 4%  dengan actor/ pelaku yang terlibat  paling adalah pegawai pemerintahan (Pengawai Negeri Sipil) sebanyak 29 orang, mantan bupati 1 orang, kalangan BUMN 2 orang, kalangan BUMD 2 orang dan sector swasta 2 orang.

Korupsi bidang pendidikan dan kesehatan merupakan salah satu korupsi yang banyak terjadi, salah satunya adalah korupsi DAK pendidikan dengan modus mar-up anggaran dan pemerasan kepada Kepala Sekolah yang dilakukan oleh pegawai negeri sipil Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Donggala dan telah divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Donggala. Praktek korupsi ini sangat terkait dengan minimnya akses informasi dan transparansi pengelolaan dana pendidikan (BOS, Rehabilitasi Sekolah, Dana Tunjangan Guru) dan kesehatan (pengadaan alat kesehatan, pembangunan gedung rumah sakit dan Jamkesmas). Bahwa kemudian Pemerintah Sulawesi Tengah, mengeluarkan  Peraturan Gubernur Nomor 06 tahun 2010  Tentang Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi Sektor Pendidikan dan Kesehatan, akan sulit diimplementasikan tanpa didukung dengan keterbukaan informasi kepada masyarakat. Peraturan gubernur ini dan keterbukaan informasi public sangat penting diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Gubernur Sulawesi Tengah dan DPRD sudah harus mendorong pembentukan Komisi Informasi Publik Daerah yang akan menangani sengketa antara badan public dengan orang atau lembaga yang meminta informasi, sehingga diharapkan Badan Publik termotivasi untuk bertanggung jawab dan berorientasi pada  pelayanan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, dapat mempercepat perwujudan pemerintahan yang bersih dan  KKN, dan terciptanya pemerintahan yang baik (good governance). Hal inilah yang penting dilakukan oleh para pemimpin di Sulawesi Tengah dan bukan hanya menjadi slogan-slogan iklan kampanye dalam pemilukada.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: