Just another WordPress.com site

Oleh : Agus Darwis,SH

Hubungan antara hak-hak manusia dan lingkungan untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1972 di Konfrensi Stockholm tentang lingkungan dan manusia (The Human Environment). Pertemuan Rio de Janeiro (Earth Summit) tahun 1992 yang telah berhasil menyusun aturan normative untuk hak-hak manusia dan lingkungan yang diatur dalam Deklarasi Rio. Tahun 1994 PBB mengeluarkan Reportur Khusus untuk Hak Asasi Manusia dan Lingkungan untuk Sub Komisi Pencegahan Diskriminasi Kaum Minoritas yang mengeluarkan analisis yang luar biasa dan mendalam mengenai pentingnya hubungan antara Hak Asasi Manusia dan Lingkungan Hidup.     

Pemahaman Hak Asasi Manusia (HAM), sebagaimana hak sipil politi, hak ekonomi, social dan budaya, hak atas pembangunan serta Hak Atas Lingkungan merupakan hak universal yang melekat pada manusia dan menjadi kewajiban masyarakat serta Negara untuk ditegakkan dan dipenuhi sepanjang masa. Sementara dalam African Charter on Human and Peoples Rights merupakan instrument yang pertama dalam kawasan regional mengadopsi hak-hak tersebut, pasal 21 ayat (1) African Charter menyatakan “Semua rakyat dapat secara bebas mengatur segala kekayaan dan sumberdaya mereka. Hak ini dilaksanakan atas kepentingan ekslusif bangsa. Tidak dibenarkan suatu bangsa merampas uapaya penghidupan sendiri”. Juga dalam Resolusi PBB 1803 (XVII) 14 Desember 1962 bahwa kedaulatan atas sumberdaya alam merupakan hak rakyat untuk dengan bebas mengatur kekayaan sumberdaya alam mereka, juga dalam Resolusi PBB 3281 (XXIX) 12 Desember 1974 yang mana salah satu tujuannya adalah guna menciptakan kondisi perlindungan, pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Sementara dalam Agenda 21 KTT Bumi Rio De Janeiro 1992 yang pada intinya juga telah meletakkan paradigma pembangunan berkelanjutan (Sustainable development) sebagai ideology pembangunan. Hak atas lingkungan sebagai HAM, baru mendapat pengakuan dalam bentuk kesimpulan oleh Sidang Komisi Tinggi HAM pada bulan April 2001, bahwa “Setiap orang memiliki hak hidup di dunia yang bebas dari polusi bahan-bahan beracun dan degradasi lingkungan hidup”.

Dalam Konstitusi Negara Kita, pada Amandemen ke-2 UUD 1945, pasal 28H ayat (1) menyatakan: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatam”. Secara tegas juga tercantum dalam Pasal 5 dan 8 UU No.23/1997, tentang pengelolaan lingkungan hidup, bahwa: “Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”, demikian juga dalam UU No.39/1999 tentang HAM, pasal 3 menyebutkan “Masyarakart berhak atas lingkungan hidup yang lebih baik dan sehat”.

Secara umum uraian tersebut memperlihatkan betapa pentingnya komponen lingkungan hidup dalam menunjang dan memenuhi hak hidup manusia sebagaimana hak atas lingkungan berkaitan dengan pencapaian kualitas hidup manusia. Masih ada begitu banyak kebijakan yang juga secara langsung berhubungan dengan lingkungan seperti UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU No.27 Tahun 2007 tentang pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, UU No.10 Tahun 2009 tentang Pariwisata. Tapi ternyata, kebijakan tersebut tidak mampu mengendalikan pengrusakan lingkungan. Salah satu sebabnya adalah pelaksana dari kebijakan tersebut justru tidak menjadikannya sebagai landasan dalam pelaksanaan pembangunan.

Jika kita lebih khusus apa yang ada dihadapan kita, menyangkut pengelolaan pesisir pantai dan laut teluk palu yang berada di dua wilayah administrasi yaitu Kabupaten Donggala dan Kota Palu, mulai dari pesisir pantai tanjung karang sampai pesisir pantai Lero. Kita akan melihat kerusakan lingkungan, pengalihan fungsi kawasan pesisir dan semakin besarnya endapan pasir dari sungai palu yang bermuara di teluk palu.

Reklamasi pantai untuk pendirian bangunan permanen yang tidak didahuli dengan analisis dampak lingkungan serta izin mendirikan bangunan (nanti setelah bangunan berdiri tiba-tiba pemerintah daerah mengeluarkan IMB), tambang galian C yang debunya sangat mengganggu pengendara sepeda motor, pembuangan limbah kelaut dan masih banyak lagi aktifitas yang merusak lingkungan yang secara nyata telah melanggar UU 28 Tahun 2002, UU No.27 Tahun 2007, dan UU No.10 Tahun 2009 tentang Pariwisata. Tetapi ternyata Pejabat Pemerintah Daerah di dua wilayah ini SEAKAN ADA SESUATU YANG MEMBUTAKAN MATA, PIKIRAN DAN NURANINYA AKAN HAL INI, secara tiba-tiba izin mendirikan bangunan dikeluarkan setelah bangunan berdiri walaupun mendapat protes dari masyarakat sekitar karena telah menghilangkan fungsi dari kawasan pesisir pantai dan nafkah hidup masyarakat setempat.

Pemerintah daerah tidak peduli dengan lingkungan yang berkelanjutan, kebijakan sektoral  yang isinya jelas-jelas hanya untuk kepentingan Pendapatan Daerah (PAD), padahal kalau kita lebih cermat dan lebih menghargai ilmu pengetahuan maka apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan mengeluarkan sebanyak-banyaknya izin pengelolaan pertambangan dan pendirian bangunan di wilayah sempadan pantai adalah merupakan legitimasi percepatan proses penghancuran lingkungan hidup melalui kebijakan daerah dalam bentuk Perda dan izin mendirikan bangunan/ restoran/ perhotelan disekitar pesisir teluk palu. Para pejabat dan pimpinan daerah, tidak jeli atau memang pura-pura tidak tahu, proses penghancuran lingkungan dengan slogan demi PAD.

Pemerintah Propinsi, Kab. Donggala dan Kota palu, apabila tidak menyusun konsep pengelolaan teluk palu yang lestari dengan berasaskan bahwa lingkungan hidup merupakan hak asasi manusia yang harus terpenuhi, maka dapat diprediksi bahwa 20 tahun akan datang teluk palu akan menjadi keranjang sampah dari industi perhotelan, rumah tangga dan juga tambang galian C, dan ini akan dapat menjadi bom waktu yang siap meledak 20 tahun akan datang, yang bisa dipastikan kerusakannya tidak sebanding dengan PAD yang diperolehnya dan siap dicaci maki oleh anak cucu kita dikemudian hari.

Kalau kemudian Pemerintah Daerah benar-benar tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat dan juga untuk menghindari bencana dikemudian hari, maka harapannya, pemerintah dapat lebih menghargai hak atas lingkungan hidup dan manusia disekitar pesisir dan laut teluk palu, olehnya itu dibutuhkan konsep pengelolaan pesisir dan laut teluk palu dalam satu kesatuan dengan tidak menghilangkan wilayah-wilayah public dan teluk palu tidak dilihat dari batas wilayah administrasi Kab. Donggala dan Kota Palu, serta memahami bahwa lingkungan hidup yang bersih, sehat, lestari dan bebas dari ancaman kerusakan, hal itu merupakan hak setiap individu (masyarakat)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: