Just another WordPress.com site

PALU, MERCUSUAR – Keluarga korban insiden Buol ‘berdarah’ belum lega dan puas dengan peradilan disiplin yang digelar Polda terhadap 26 terperiksa. Mereka lantas memplesetkan sidang itu dengan sebutan ‘Sidang 21’ (Karena terperiksa hanya dihukum 21 hari). Menurut keluarga korban, persidangan disiplin anggota Polri tersebut bukannya membuat luka mereka terhapus. Bahkan tambah membakar amarah mereka. Pasalnya, hingga kini, Polda belum menentukan seorang pun yang menjadi tersangka. Padahal, korban tewas sebanyak delapan orang plus puluhan lainnya luka-luka. “Jika terjadi pencurian ayam, polisi cepat membekuk tersangkanya. Bahkan diberi hukuman sampai lima atau enam bulan penjara. Tapi ini manusia yang tewas ada delapan orang, ditambah puluhan lainnya luka-luka, mengapa belum ada tersangka? Wajar saja kalau masyarakat tidak suka sama polisi lagi,” kata kakak kandung Kasmir Timumun, Jamal Timumun, kemarin (17/10). Dia menambahkan, dilihat dari kondisi jenazah almarhum, sangat tidak memungkinkan bila adiknya bunuh diri. Dia berpendapat, adiknya sengaja dibunuh, lalu digantung, untuk menghilangkan bukti-bukti. “Adik saya puasa waktu itu. Sangat tidak mungkin jika ia bunuh diri dalam keadaan puasa. Kedua, kaki adik saya patah karena dianiaya. Adik saya mengakui hal tersebut saat saya menjenguknya. Tidak mungkin dia sanggup gantung diri, sementara jika berjalan, dia mententeng kakinya yang patah itu,” kata Jamal dengan nada kecewa. Selain itu, lanjut Jamal, sepuluh jari tangan adiknya disulut rokok. Menurut adiknya, polisi berbaju rompi hijau (Polantas) secara bergantian menghajarnya. Sayang, adiknya tidak mengetahui nama polisi itu, karena namanya tertutup rompi. “Rahang sebelah kanan adik saya bengkak. Kaki kanannya juga bengkak. Sewaktu saya mengantarkan makanan, adik saya jalan pincang dan menenteng kakinya yang patah tersebut,” sambungnya. Hal senada diungkapkan paman korban, Mahmud Hanggi. Menurutnya, ia dipanggil polisi untuk melihat korban yang dalam posisi tergantung. Sebelum menurunkan jenazah korban, Mahmud mengaku melihat secara detil jenazah korban. “Saya melihat jenazah korban dari dekat. Saya amati satu per satu secara rinci. Aneh jika ponakan saya bunuh diri, karena tanda-tandanya bukan seperti orang bunuh diri. Saya tidak melihat ada bangku atau meja tempat Kasmir berpijak saat gantung diri. Kedua, apakah sebelum dia gantung diri, dia sempat memasukkan gulungan koran ke mulutnya? Atau setelah lehernya terikat, ia lalu memasukkan gulungan koran itu? Sangat mustahil jika ia gantung diri. Menurut saya, dia dibunuh dengan cara dianiaya, lalu digantung,” tegas Mahmud, sembari menyebut setelah melihat secara detil jenazah korban, ia lalu memotretnya. Kakek Kasmir Timumun, Syamsuddin Intam berpendapat, terjadinya bentrokan antara warga dan kepolisian di Buol, diakibatkan ketidakjujuran polisi, terkait kematian Kasmir Timumun. Jika polisi mengakui bahwa Kasmir mati dibunuh, lalu polisi meminta maaf dan berjanji akan menghukum pelaku pembunuhan itu, maka masyarakat tidak akan berang. Namun karena masyarakat ‘ditipu’ dengan menyebut kematian Kasmir karena bunuh diri, maka yang terjadi adalah ketidakpercayaan warga terhadap institusi itu. Soal sidang disiplin anggota Polri, Syamsuddin mengatakan, dengan dihukumnya para terperiksa, menandakan bahwa polisi tersebut bersalah. Namun yang mengherankan, sambungnya, mengapa tak satupun dari mereka yang bersalah itu dijebloskan ke pengadilan umum. “Siapa yang mengakibatkan delapan warga tewas dan puluhan lainnya terluka? Apakah para terperiksa itu, atau ada polisi lain? Ini yang harus dijawab Kapolda. Karena masyarakat Buol hanya menginginkan penegakan hukum yang seadil-adilnya dan setegas-tegasnya,” tegas Syamsuddin. Yang lebih mengherankan lagi, pada umumnya, korban tewas tertembak di bagian belakang, dan berada jauh dari Polsek Biau. “Saat bentrok, terjadi ketegangan antara Danki Brimob dan Wakapolres. Kenapa, karena Danki Brimob mendengar perintah kapolres yang memerintahkan untuk tidak meninggalkan Mako. Sementara Wakapolres melanggar instruksi itu. Dia lantas memerintahkan anggotanya untuk mengosongkan Mako. Kemana anggota polisi itu setelah diperintahkan meninggalkan Mako, kalau tidak mereka bergerilya dan menembak dari belakang,” terang mantan Kepala LKBN Antara tersebut. Pernyataan Syamsuddin Intam dibenarkan ayah kandung korban Ridwan Madaali, Madaali. Menurutnya, anaknya tewas setelah tertembak di bagian belakang. Bahkan, posisi kematian anaknya sangat jauh dari Mapolsek Biau, berkisar 300 meter. “Anak saya ditemukan tewas sekitar 300 meter dari Mapolsek Biau. Posisinya dari lokasi kematian anak saya dengan Mapolsek, kita harus berjalan lurus sekitar 200 meter lalu belok kanan 100 meter. Jika demikian, siapa yang menembak anak saya? Apakah masyarakat, TNI atau polisi yang bergerilya?,” tutur Madaali dengan nada kecewa. Menanggapi hal tersebut, Plt Kabid Humas Polda Sulteng, Kompol Kahar Muzakir mengatakan, penyelidikan pidana insiden Buol hingga kini terus dilakukan. Polda Sulteng masih mencari bukti-bukti dan saksi-saksi untuk menguatkan dugaan pidana tersebut. “Penyelidikan untuk pidananya masih kami lakukan. Sejauh ini, kami masih mencari bukti dan saksi-saksi,” terang Kahar. Ditanya apakah sudah ada polisi yang ditetapkan sebagai tersangka, Kahar mengaku belum ada. “Belum ada tersangka, kami masih melakukan pendalaman,” singkatnya. DEKAB MENGECEWAKAN Para keluarga korban juga mengecewakan sikap anggota Dekab Buol yang tidak mau mendampingi mereka, menuntut keadilan di Mapolda. Kedatangan 15 keluarga korban ke Palu untuk menyaksikan langsung jalannya sidang disiplin, praktis tanpa dampingan anggota Dekab seorang pun. “Kami ke Palu atas biaya sendiri. Anggota Dekab tidak ada yang mendampingi kami. Kami sangat menyesalkan hal ini,” kata Mahmud Hanggi diamini para keluarga korban lainnya. Sebagai wakil rakyat di parlemen, mereka seharusnya merespon dan mendukung langkah keluarga korban ini. Bila perlu dampingi, sehingga keluarga korban bisa mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. GUS

http://www.harianmercusuar.com/?vwdtl=ya&pid=9118&kid=all

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: