Just another WordPress.com site

 [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 21/10/2010 | 08:37 WIB

Oleh: Tubagus Januar Soemawinata (Universitas Nasional)

JANGAN meremehkan demo unjukrasa 20 Oktober 2010 yang dilakukan kalangan  aktivis/mahasiswa serta menganggapnya tidak berhasil menindaklanjuti isu penggulingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Enam tahun ‘bertahta’ SBY dinilai gagal menjalankan amanat kepemimpinan sesuai janji-janji kampanyenya untuk mensejahterakan rakyat dan mewujudkan keadilan. Ingat, mahasiswa di mana-mana di seluruh tanah air sudah kompak melakukan demo mengkritisi setahun pemerintahan SBY yang dinilai gagal ‘total’. Bahkan, demo di depan Istana Presiden sempat terjadi kericuhan dan bentrokan antara mahasiswa dengan aparat kepolisian yang ‘mengamankan’ pihak rezim penguasa. Demikian juga di tempat lain di wilayah ibukota, diantaranya demo di Jalan Diponegoro, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) dan sebuah aktivis LSM garis keras tak kalah galaknya demo menutut SBY mundur. Sayangnya, aparat bertindak represif sehingga seorang mahasiswa UBK tertembak dan harus dilarikan dan dioperasi di RSCM Jakarta.

Sepanjang depan Istana sendiri dipagari kawat berduri sehingga sulit bagi mahasiswa pendemo untuk merangsek mendekat tempat Presiden bertahta itu. Terhadap ancaman protap tembak di tempat, sebenarnya tidak membuat takut atau menyusutkan tekad mahasiswa. Namun, akibat sikap represif aparat, akhirnya membuat mahasiswa kocar-kacir menyelamatkan diri. Musim hujan yang mengguyur ibukota juga sempat ‘mengganggu’ aktivitas demo mahasiswa bertepatan satu tahun pemerintahan SBY di periode kedua kepemimpinannya. Meski hujan lebat di Jakarta, demo mahasiswa pantang surut. Di tempat lain, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia yang melakukan demo di Yogyakarta juga menyerukan bahwa SBY telah gagal total. Unjukrasa mahasiswa di Makassar bahkan tidak kalah sengitnya sehingga terjadi kerusuhan dan bentrok fisik antara mahasiswa dengan polisi. Mahasiswa membakar ban, membakar mobil dinas yang lewat, dan juga membakar foto SBY. Dalam waktu yang bersamaan, demo mahasiswa yang menilai kegagalan SBY juga terjadi di berbagai kota di Indonesia. Akses jalan yang dilewati kendaraan umum pun sempat lumpuh total.

Mahasiswa menilai, selama setahun memimpin Indonesia, pemerintahan SBY-Boediono telah gagal memenuhi harapan rakyat. Pemerintahan kedua SBY hanya sibuk menebar pesona, tetapi gagal dalam menyejahterakan masyarakat. SBY lebih sibuk rapat, bikin album, upacara, dan tebar pesona, dari pada memberi solusi tabung gas meledak, harga sembako yang mahal dan takut menghukum mati para koruptor. SBY sudah gagal, sudah enam tahun memimpin tapi rakyat masih sengsara. Penegakan hukum tebang pilih tidak menyentuh lingkaran Istana. Mahasiswa juga mengungkit kembali soal kasus Bank Century. Mereka meminta skandal yang rugikan negara triliunan rupiah itu diungkap tuntas. Lambatnya penuntasan hukum kasus-kasus besar, seperti skandal Century, mereka gambarkan dalam ‘keranda mayat’ sebagai simbol matinya hukum. Aksi demo juga menilai pemerintahan SBY-Boediono telah menjadi antek-antek penjajah asing. Mereka mengkritik kebijakan pemerintah yang obral hasil bumi untuk kepentingan modal asing. Hal ini tergambar lahirnya UU Ketenagalistrikan, UU Kawasan Ekonomi Khusus, UU Sumber Daya Air, dan UU Sisdiknas yang pro modal.

Sebanyak 85 persen potensi minyah dan gas bumi (migas) dan 75 persen batubara dikuasai asing. Tidak hanya itu, sebanyak 474 undang-undang yang dibuat diindikasikan adalah pesanan asing. Mahasiswa menyebutkan, hasil eksploitasi batubara di Kalimantan Timur misalnya, mencapai 102,29 juta ton tahun 2007, dan tahun 2009 meningkat menjadi 170 juta ton atau setara 60 persen produksi nasional. Seharusnya rakyat bisa menikmati. Tapi faktanya rakyat malah harus menanggung kenaikan tarif dasar listrik. Mereka pun menganggap pemerintah gagal mensejahterakan rakyat. Kestabilan harga bahan pokok, yang gagal dilakukan pemerintah selama setahun terakhir ini. Sejumlah kebijakan yang dijalankan tidak sesuai tujuan kemaslahatan rakyat. Liberalisasi ekonomi terbukti membuat rakyat makin sengsara. Kalangan buruh terancam oleh sistem outsourcing yang membuat upah mereka sangat murah dan hubungan kerja yang hanya dalam ikatan kontrak belaka. Sementara pelajar dan mahasiswa harus membayar biaya pendidikan yang mahal. Biaya ke rumah sakit sangat mahal sehingga tak terjangkau rakyat miskin. Kita tercekik kapitalis! Oleh karenanya, aktivis demo mahasiswa menyerukan bahwa sudah jelas SBY-Boediono gagal dan harus digulingkan.

Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menilai, selama pemerintahan SBY-Boediono masih banyak mafia hukum dan penegakan masih semu karena pemerintah tidak serius mengedepankan rasa keadilan pada rakyat. Buktinya, banyak koruptor diberi remisi. Mahasiswa menuntut SBY mereformasi lembaga hukum dan peradilan, memberantas korupsi dan mafia peradilan tanpa pandang bulu serta mengusut tuntas kasus BLBI dan Century. Pemerintahan SBY pun dianggap makin menyengsarakan rakyat miskin dengan liberalisasi ekonomi. Indikatornya, ledakan gas elpiji berkali-kali terjadi tanpa penanganan yang menyeluruh dan tegas. Selebihnya mereka meminta Presiden SBY untuk berani bersikap tegas menghadapi negara-negara yang berpotensi mengganggu Indonesia, seperti Malaysia. Mahasiswa mengecam politik luar negeri SBY yang dinilai tidak bermartabat, tidak berdaulat dan pro imperialisme. Presiden SBY diminta untuk menghentikan politik pencitraan yang mencerminkan ketidaktulusan presiden terhadap rakyatnya. “Gara-gara sibuk menjaga citra, Presiden jadi lambat bekerja dan prioritas kerja makin tak terarah. Kurang responsif dan peka terhadap nasib rakyatnya. Ke Wasior saja sepekan setelah kejadian. Tapi kalau masalahnya langsung menyangkut diri sendiri, Presiden sensitif sekali dan lalu melakukan curhat (curahan hati) di televisi,” seru mahasiswa.

Kubu Partai Demokrat dan kelompok pro SBY jangan hanya mempermasalahkan demo mahasiswa dan mendramatisasi isu penggulingan SBY. Yang lebih penting justeru ingatkan SBY dan awasi perilaku birokrasi dan pejabat pemerintahan SBY untuk bekerja keras dan profesional, jangan menyelewangkan wewenang dan kekuasaan. Rezim penguasa jangan bersikap pasif defensif menanggapi kritik masyarakat hanya karena ingin memperhatankan kekuasaan dan atau berupaya untuk merebut kembali kekuasaan tanpa menunjukkan prestasi dan perubahan keadaan yang baik kepada masyarakat. Tidak cukup kalau hanya pidato yang mengarahkan agar para pendukung SBY harus ‘mati-matian’ membela sang Presiden. Seperti Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaingrum dalam pidato rangkaian HUT ke-9 Partai Demokrat minggu lalu, mengatakan bahwa gagasan menggulingkan pemerintahan di tengah jalan mencederai hasil pemilu dan melanggar konstitusi. “Tindakan inskonstitusional harus dilawan, bukan dengan kekerasan tapi dengan penegakan hukum yang tegas dan adil,” seru Anas di depan kader Partai Demokrat.

Demo setahun pemerintahan SBY ini tentunya harus dijadikan peringatan dan koreksi bagi SBY dan lingkaran penguasa. Jangan dicueki dan bahkan dianggap mahasiswa tidak berhasil menggulingkan SBY. Sementara SBY dianggap ‘selamat’ dari amuk massa pendemo sehingga pendukung SBY  merasa ‘menang’ dan berpesta pora merayakan ‘kemenangan’-nya. Mereka hanya maunya menikmati kekuasaan yang diboncengi dari kepemimpinan SBY, tanpa mau memberikan saran atau cambukan kepada Presiden agar koreksi diri melakukan perbaikan dan kerja keras tanpa KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) untuk mengentas keterpurukan bangsa ini. Kalangan pragmatis dan oportunis tentunya memanfaatkan kekuasaan SBY untuk mencari kenikmatan dan kekayaan pribadi, tak peduli apakah nantinya SBY benar-benar akan digulingkan sebelum 2014. Apabila kinerja pemerintahan SBY tetap tidak ada kemajuan signifikan, jangan heran kalau demo mahasiswa 20 Oktober 2011 nanti akan semakin keras dan ‘beringas’ dalam memfollow-up wacana penggulingan SBY. Bahkan, sebelum dua tahun pemerintahannya, Presiden SBY bisa ‘jatuh’ akibat gerakan seperti yang dialami mendiang Presiden Soeharto pada 1998 lalu. Artinya, nanti penggulingan SBY bisa terjadi beneran, bukan sekedar wacana atau isu penggulingan! (*)http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/16358/Nanti-Penggulingan-SBY-Bisa-Beneran.jp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: