Just another WordPress.com site

KOMPAS – Rabu, 10 November 2010

Jakarta, Kompas – Poin utama dalam komunikasi politik adalah kejujuran dan ketulusan. Tanpa itu, politisi hanya akan dipandang sebagai manipulator.

”Otentisitas dan ketulusan, serta passion. Tanpa itu, apa pun yang Anda katakan langsung terasa manipulatif,” kata Richard Greene, ahli komunikasi dari Amerika Serikat, Selasa (9/11) di Jakarta, dalam kuliah umum ”Komunikasi Politik Seorang Pemimpin” yang diadakan Indika Energi. Richard Greene adalah penulis buku Words That Shook the World dan telah menjadi konsultan di 29 negara.

Hadir juga sebagai pembicara, Juru Bicara Kepresidenan zaman Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wimar Witoelar, dan Deputi Politik Wakil Presiden Boediono, Dewi Fortuna Anwar.

Kejujuran dalam berkomunikasi dan hasrat akan membuat masyarakat merasakan apa yang hendak disampaikan lewat komunikasi politik. Hal ini memang tidak mudah. Presiden Amerika Serikat Barack Obama, misalnya, dilihat Richard Greene lebih mampu menggerakkan pendengarnya saat berkampanye dibandingkan dengan saat ini.

Kekuatan Obama saat kampanye dipaparkan Richard Greene dalam beberapa poin, yaitu kemampuan bercerita, variasi volume suara, dan olah tubuh. Namun, di atas segalanya, Obama mampu membuat orang merasakan koneksi yang kuat dengan dirinya. Hal inilah yang membuat dia terpilih. ”Segala hal tentang politik itu adalah tentang manusia,” katanya.

Menanggapi beberapa pertanyaan tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Richard Greene mengatakan, Yudhoyono tidak memiliki kualitas yang tinggi sebagai pembicara. Namun, lewat kepemimpinan Yudhoyono, Indonesia bisa mengambil posisi dalam menyampaikan visi tentang kebangkitan demokrasi. Hal inilah yang menyebabkan Richard Greene memasang foto Yudhoyono berdampingan dengan foto Obama dalam bukunya, Words That Shook the World.

Menanggapi pertanyaan tentang Yudhoyono yang terkesan sering mengeluh dan mencurahkan perasaannya, Richard Greene mengembalikan hal ini pada prinsip awalnya. Kalau pemirsa merasa ungkapan itu tulus, hal tersebut tak masalah. Namun, kalau pemirsa merasa hal itu adalah manipulasi atau jualan, hal ini malah jadi kontraproduktif.

Ia menggarisbawahi, pekerjaan sebagai presiden memang berat. Oleh karena itu, keterbukaan tentang beratnya hal ini dengan tidak melebih-lebihkan dan tidak memiliki agenda manipulatif adalah bentuk komunikasi politik yang baik.

Dalam kesempatan yang sama, Dewi Fortuna Anwar menggambarkan komunikasi politik Indonesia bertransformasi sejak zaman Soeharto. Waktu itu pemerintah menjadi lembaga yang tak terjamah dan presiden menjadi sosok yang bersabda. Hal ini didobrak oleh BJ Habibie yang melakukan desakralisasi terhadap lembaga kepresidenan dalam arti positif.

Sejalan dengan Dewi yang menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara mengambil keputusan yang tak populer dan mendengarkan publik, Wimar menyatakan, pada masa Gus Dur menjadi presiden, komitmennya adalah bagaimana menggunakan jabatan itu untuk mewujudkan berbagai agenda, seperti pluralisme dan hak asasi manusia. ”Jadi, saya tidak diikat dengan berbagai kontrak,” kata Wimar. (EDN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: