Just another WordPress.com site

POSO, MERCUSUAR – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi dana kemanusiaan pemulihan pasca konflik Poso (recovery) sebesar Rp 58 miliar, Senin (15/11) kembali digelar di PN Poso. Dalam sidang kedua ini JPU yang terdiri dari RO Marunduh SH dan Andi Rio SH menghadirkan lima saksi masing-masing anggota Dekab Poso, Mehula Popule, staf Bagian Pembangunan Poso yang juga selaku panitia penerima barang dalam proyek recovery, Rahmat, Bendahara pemegang uang muka dana recovery, Isna Mustafa serta Amos dan Fuad yang juga pegawai di Bagian Pembangunan Setdakab Poso.
Awalnya Majelis Hakim yang dipimpin Nawawi Pomolango SH dan dua hakim anggota masing-masing Yoga Ariastomo Nugroho SH dan Azwir SH menghadirkan anggota Dekab Poso, Mehula Popule. Popule dimintai keterangannya sebagai saksi dalam kapasitasnya mewakili Direktur CV Printis Membangun yang dipegang isterinya, almarhumah Yuni Lenggong.
Saat pengucuran dana recovery tahun 2007 lalu, CV Perintis Membangun merupakan salah satu rekanan yang memperoleh pekerjaan pengadaan benih padi, pupuk dan pestisida yang jumlah anggarannya sesuai kontrak kerja mencapai Rp 163,913 juta. Saat itu M Popule belum tercatat sebagai anggota Dekab Poso. Ia bersama istrinya (almarhumah) masih berstatus sebagai kontraktor dan akhirnya terjun ke dunia politik sebagai politisi Partai Demokrat Poso.
Menariknya, jumlah anggaran proyek dalam kontrak sebesar Rp 163 juta tadi kemudian di mark up oleh staf tahnis pengelolaan dana recovery Edy Suwiryo (tersangka recovery yang kini masih buron) dengan jalan mengubah kontrak penawaran menjadi Rp 179.500 juta. Sehingga terjadi selisih sekitar Rp 15 juta dengan nilai kontrak sebenarnya. Dari kelebihan ini M Popule dalam kesaksiannya mengaku ikut menerima dana mark up tersebut sebesar Rp 3 juta.
Saksi Rahmat juga menuturkan SK pengangkatan dirinya selaku pengawas dan pemeriksa barang ditandatangani langsung Bupati Poso Piet Inkiriwang. “Benar SK saya ditandatangani bupati,” akunya.
Ia juga mengaku sempat mendapat intimidasi dari orang-orang suruhan Budiyanto Theodora untuk menandatangi hasil proyek dana recovery yang dikerjakan Budiyanto, diantaranya proyek percetakan sawah fiktif dan pengadaan bibit kakao.
Sementara pemegang uang muka recovery Poso Isna Mustafa juga dihadirkan sebagai saksi. Sebagai bendahara Isna mengaku hanya melakukan pembayaran sesuai dengan nilai yang telah disepakati dan telah ditandatangani oleh PPK recovery. “Saya tidak tahu kalau ternyata anggarannya telah di mark up, saya tahu setelah dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.
Dalam sidang tersebut, tampak pula terdakwa Matius Nelloh yang kini didampingi tiga pengacaranya masing-masing Victor Posawa SH, Abd.Manan Abbas SH dan Yusran SH. Kehadiran Nelloh dipersidangan juga didampingi sang isteri dan beberapa orang anak serta saudaranya.
Sidang kemudian ditunda dan akan kembali digelar Selasa pekan depan dengan menghadirkan saksi lainnya. ULY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: